Minggu, 13 Mei 2018

Kepemimpinan Bangsa Melayu



Bangsa Melayu termasuk di antara bangsa-bangsa yang tertua di dunia. Lebih dari 10.000 tahun silam, bangsa ini sudah ada dan membentuk suatu komunitas masyarakat, khususnya di wilayah pulau Sumatera hingga di Semenanjung Melayu. Lalu, khususnya di wilayah Jambi, maka sejak dahulu kala telah dihuni oleh beberapa etnis Melayu seperti Suku Kerinci, Suku Batin, Suku Bangsa Duabelas, Suku Penghulu, dan Suku Kubu atau Suku Anak Dalam. Pada masa lampau mereka ini telah melatarbelakangi perkembangan bahasa Melayu, budaya Melayu, maupun pasang surut kerajaan-kerajaan di daerah Jambi.
Sejarah telah membuktikan bahwa kepemimpinan raja-raja masyarakat Melayu pernah mengalami masa kejayaannya. Perdagangan yang dijalankan oleh masyarakat Melayu mampu merambah berbagai belahan dunia pada masanya. Bahkan pada era Sultan Iskandar Muda berkuasa di Aceh, kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia. Kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, Malayu-Jambi, Aceh dan Malaka tak dapat dipungkiri menjadi tonggak kebesaran rumpun Melayu. Semua itu tidak bisa terjadi kecuali kepemimpinan dalam tradisi Melayu saat itu sudah memiliki jati diri yang kuat, mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, berdaya tahan tinggi dan berperan aktif dalam kesinambungan kehidupan bangsa.
Sejarah Melayu juga banyak mencatatkan kearifan kepemimpinan dalam perspektif budaya Melayu. Sehingga ditengah krisis kepemimpinan yang melanda negeri ini, sebenarnya tradisi budaya Melayu sejak dahulu telah menawarkan model kepemimpinan yang kiranya pas untuk Indonesia di tengah masalah yang kerap dihadapi saat ini. Dan jika melihat sifat pemimpin ideal yang ada dalam tradisi budaya Melayu, maka akan sangat relevan dengan model kepemimpinan transformasional pada masa kini. Kepemimpinan transformasional berkaitan dengan nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran (perubahan), seperti kejujuran, keadilan dan tanggung jawab.
Model kepemimpinan tradisi Melayu, kini di sederhanakan dengan istilah model kepemimpinan transformasional di era kontemporer. Satu model kepemimpinan yang ideal di tengah situasi Indonesia saat ini. Pemimpin yang transformatif lebih memposisikan diri mereka sebagai mentor yang bersedia menampung aspirasi para bawahannya. Dalam pendapat lain, kepemimpinan transformatif didefinisikan sebagai kepemimpinan dimana para pemimpin menggunakan kharisma mereka untuk melakukan transformasi dan merevitalisasi organisasinya. Para pemimpin yang transformatif lebih mementingkan revitalisasi para pengikutnya secara menyeluruh ketimbang memberikan instruksi-intruksi yang bersifat top-down.
Jadi model kepemimpinan tradisi Melayu masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, karena model kepemimpinan tradisinya adalah transformasional, yang diharapkan bisa membawa perubahan kearah yang lebih baik.
Seorang pemimpin dalam tradisi Melayu adalah sosok manusia yang lebih daripada lainnya, sakti, kuat, gigih, dan tahu banyak hal. Para pemimpin juga merupakan manusia-manusia yag jumlahnya sedikit, namun perannya dalam suatu komunitas (suku, bangsa, negara) merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai. Karena itu, sebelum abad Masehi etnis Melayu, khususnya di Jambi telah mengembangkan suatu corak kebudayaan Melayu pra sejarah di wilayah pegunungan dan dataran tinggi. Masyarakat pendukung kebudayaan ini antara lain adalah Suku Kerinci. Orang Kerinci diperkirakan sudah menempati kaldera Danau Kerinci sekitar 10.000 SM. Mereka telah mengembangkan kebudayaan batu seperti yang ada pada kebudayaan Neolitikum. Pada zaman dahulu yang dimaksudkan dengan wilayah Kerinci adalah mencakup daerah yang disebut dengan Kerinci Tinggi/Atas dan Kerinci Rendah/Bawah. Sementara istilah Kerinci itu sendiri berawal dari kata Korintji yang berarti negeri di atas bukit.
Lalu, dalam khazanah politik Melayu, pemimpin didefinisikan sebagai orang yang diberi kelebihan untuk mengurusi kepentingan orang banyak. Arti raja atau penguasa bagi orang Melayu dimaknai lewat pepatah lama berikut ini:
Yang didahulukan selangkah
Yang ditinggikan seranting
Yang dilebihkan serambut
Yang dimuliakan sekuku
Pepatah tersebut secara eksplisit menjelaskan bahwa seorang raja haruslah sosok manusia yang dapat dijangkau oleh rakyat biasa. Penguasa harus berada di tengah-tengah rakyatnya, mengerti kondisi warganya, dan tahu apa yang diinginkan oleh mereka. Raja bukanlah dewa yang tak tersentuh oleh manusia, melainkan sosok yang hanya diberi beberapa kelebihan seperti di atas.
Jadi, eksistensi suatu negara ditentukan oleh tiga hal penting yaitu pemimpin, rakyat dan wilayah. Pada masa lampau kerajaan-kerajaan juga mensyaratkan adanya pemimpin atau raja. Oleh sebab itu keberadaan raja adalah sebuah keniscayaan. “Raja itu umpama akar, dan rakyat adalah pohon. Jikalau tidak ada akar, maka pohon tidak dapat berdiri”. Sebuah ungkapan mengenai pentingnya seorang pemimpin. Dan pada masa kerajaan Melayu terdapat raja-raja yang berjaya dan mampu membawa kerajaannya pada masa keemasan.
Dalam tradisi orang Melayu, para pemimpin itu adalah manusia-manusia yang lebih daripada yang lain, kuat, gigih, dan tahu tentang banyak hal. Bahkan di masa lalu, seorang pemimpin bangsa Melayu juga haruslah sosok yang sakti mandraguna demi melindungi wilayah dan rakyatnya dari ganguan binatang buas, penjahat, penjajah dan makhluk halus (jin, siluman, setan, dll). Karena itulah, para pemimpin yang sejati juga merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam suatu komunitas orang Melayu menjadi penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar