Bangsa
Melayu termasuk di antara bangsa-bangsa yang tertua di dunia. Lebih dari 10.000
tahun silam, bangsa ini sudah ada dan membentuk suatu komunitas masyarakat,
khususnya di wilayah pulau Sumatera hingga di Semenanjung Melayu. Lalu,
khususnya di wilayah Jambi, maka sejak dahulu kala telah dihuni oleh beberapa
etnis Melayu seperti Suku Kerinci, Suku Batin, Suku Bangsa Duabelas, Suku
Penghulu, dan Suku Kubu atau Suku Anak Dalam. Pada masa lampau mereka ini telah
melatarbelakangi perkembangan bahasa Melayu, budaya Melayu, maupun pasang surut
kerajaan-kerajaan di daerah Jambi.
Sejarah
telah membuktikan bahwa kepemimpinan raja-raja masyarakat Melayu pernah
mengalami masa kejayaannya. Perdagangan yang dijalankan oleh masyarakat Melayu
mampu merambah berbagai belahan dunia pada masanya. Bahkan pada era Sultan
Iskandar Muda berkuasa di Aceh, kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan
terbesar di dunia. Kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, Malayu-Jambi, Aceh dan
Malaka tak dapat dipungkiri menjadi tonggak kebesaran rumpun Melayu. Semua itu
tidak bisa terjadi kecuali kepemimpinan dalam tradisi Melayu saat itu sudah
memiliki jati diri yang kuat, mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan,
berdaya tahan tinggi dan berperan aktif dalam kesinambungan kehidupan bangsa.
Sejarah
Melayu juga banyak mencatatkan kearifan kepemimpinan dalam perspektif budaya
Melayu. Sehingga ditengah krisis kepemimpinan yang melanda negeri ini,
sebenarnya tradisi budaya Melayu sejak dahulu telah menawarkan model
kepemimpinan yang kiranya pas untuk Indonesia di tengah masalah yang kerap
dihadapi saat ini. Dan jika melihat sifat pemimpin ideal yang ada dalam tradisi
budaya Melayu, maka akan sangat relevan dengan model kepemimpinan
transformasional pada masa kini. Kepemimpinan transformasional berkaitan dengan
nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran (perubahan), seperti kejujuran,
keadilan dan tanggung jawab.
Model
kepemimpinan tradisi Melayu, kini di sederhanakan dengan istilah model
kepemimpinan transformasional di era kontemporer. Satu model kepemimpinan yang
ideal di tengah situasi Indonesia saat ini. Pemimpin yang transformatif lebih
memposisikan diri mereka sebagai mentor yang bersedia menampung aspirasi para
bawahannya. Dalam pendapat lain, kepemimpinan transformatif didefinisikan
sebagai kepemimpinan dimana para pemimpin menggunakan kharisma mereka untuk
melakukan transformasi dan merevitalisasi organisasinya. Para pemimpin yang
transformatif lebih mementingkan revitalisasi para pengikutnya secara
menyeluruh ketimbang memberikan instruksi-intruksi yang bersifat top-down.
Jadi
model kepemimpinan tradisi Melayu masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia
saat ini, karena model kepemimpinan tradisinya adalah transformasional, yang
diharapkan bisa membawa perubahan kearah yang lebih baik.
Seorang
pemimpin dalam tradisi Melayu adalah sosok manusia yang lebih daripada lainnya,
sakti, kuat, gigih, dan tahu banyak hal. Para pemimpin juga merupakan
manusia-manusia yag jumlahnya sedikit, namun perannya dalam suatu komunitas
(suku, bangsa, negara) merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang
hendak dicapai. Karena itu, sebelum abad Masehi etnis Melayu, khususnya di
Jambi telah mengembangkan suatu corak kebudayaan Melayu pra sejarah di wilayah
pegunungan dan dataran tinggi. Masyarakat pendukung kebudayaan ini antara lain
adalah Suku Kerinci. Orang Kerinci diperkirakan sudah menempati kaldera Danau
Kerinci sekitar 10.000 SM. Mereka telah mengembangkan kebudayaan batu seperti
yang ada pada kebudayaan Neolitikum. Pada zaman dahulu yang dimaksudkan dengan
wilayah Kerinci adalah mencakup daerah yang disebut dengan Kerinci Tinggi/Atas
dan Kerinci Rendah/Bawah. Sementara istilah Kerinci itu sendiri berawal dari kata
Korintji yang berarti negeri di atas bukit.
Lalu,
dalam khazanah politik Melayu, pemimpin didefinisikan sebagai orang yang diberi
kelebihan untuk mengurusi kepentingan orang banyak. Arti raja atau penguasa
bagi orang Melayu dimaknai lewat pepatah lama berikut ini:
Yang didahulukan
selangkah
Yang ditinggikan
seranting
Yang dilebihkan
serambut
Yang dimuliakan sekuku
Pepatah
tersebut secara eksplisit menjelaskan bahwa seorang raja haruslah sosok manusia
yang dapat dijangkau oleh rakyat biasa. Penguasa harus berada di tengah-tengah
rakyatnya, mengerti kondisi warganya, dan tahu apa yang diinginkan oleh mereka.
Raja bukanlah dewa yang tak tersentuh oleh manusia, melainkan sosok yang hanya
diberi beberapa kelebihan seperti di atas.
Jadi,
eksistensi suatu negara ditentukan oleh tiga hal penting yaitu pemimpin, rakyat
dan wilayah. Pada masa lampau kerajaan-kerajaan juga mensyaratkan adanya
pemimpin atau raja. Oleh sebab itu keberadaan raja adalah sebuah keniscayaan.
“Raja itu umpama akar, dan rakyat adalah pohon. Jikalau tidak ada akar, maka
pohon tidak dapat berdiri”. Sebuah ungkapan mengenai pentingnya seorang
pemimpin. Dan pada masa kerajaan Melayu terdapat raja-raja yang berjaya dan
mampu membawa kerajaannya pada masa keemasan.
Dalam
tradisi orang Melayu, para pemimpin itu adalah manusia-manusia yang lebih
daripada yang lain, kuat, gigih, dan tahu tentang banyak hal. Bahkan di masa
lalu, seorang pemimpin bangsa Melayu juga haruslah sosok yang sakti mandraguna
demi melindungi wilayah dan rakyatnya dari ganguan binatang buas, penjahat,
penjajah dan makhluk halus (jin, siluman, setan, dll). Karena itulah, para
pemimpin yang sejati juga merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit,
namun perannya dalam suatu komunitas orang Melayu menjadi penentu keberhasilan
dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai bersama.